Lelaki dalam Kenangan

May 13, 2016 § Leave a comment

Aku tengah menatap foto dalam ponselku ketika satu suara memecah lamunku. Siapa?, tanyanya. Aku menoleh lalu tersenyum. Memangnya kau punya banyak waktu untuk mendengar tentang siapa dia?, tanyaku balik.

Dia adalah alasanku tersenyum tiba-tiba, menangis tiba-tiba, terdiam tiba-tiba. Dia yang tiba-tiba ada di hidupku, menulis kisah di buku harianku.
Dia yang selalu bersikeras memanggil nama asliku alih-alih nama panggilan yang biasa disebut teman-temanku. Dia yang rela menghabiskan malam di kedai makanan Korea, yang notabene bukan menjadi favoritnya.
Dia yang sabar melihatku tertidur saat kami menonton film di bioskop. Dia yang tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar meski aku (mungkin) salah.
Dia yang tidak keberatan pergi ke warung es krim meski malam sangat dingin tapi aku bersikeras ingin makan es krim.
Dia yang selalu tersenyum cerah hingga aku lupa semua lelahku usai bekerja. Dan dia, satu-satunya lelaki yang tahu betul apa yang kusukai, yang sukses membuatku terheran tapi juga senang, saat menerima bingkisan berupa buku di hari ulang tahunku.

Aku menghela nafas lalu tersenyum lagi. Dia.. seorang pelukis, kataku. Oh ya? Pelukis terkenal? Apa saja karyanya?, tanyanya penuh dengan keingintahuan. Aku tertawa sejenak lalu menjawab singkat, dengan senyum terukir di wajahku. Dia, pelukis pelangi.

Aku Sibuk Memikirkanmu Hingga Aku Lupa Memikirkan Judul

May 12, 2016 § Leave a comment

Kata orang, cinta pada pandangan pertama itu ada, tapi aku tak pernah percaya. Namun pada akhirnya aku melihatmu, dan dalam sekali tatap aku percaya. Akhirnya aku percaya bahwa cinta pandangan pertama memang nyata.
Aku tidak pernah mengira aku akan jatuh padamu. Tapi bahkan sejak kapan aku pun tak tahu. Aku tidak pernah percaya bahwa ini cinta, tapi kenyataan bahwa aku tak pernah mendendam padamu membuatku sadar…. inilah cinta, kasih yang sesungguhnya.

Aku tidak marah ketika akhirnya kau membuatku jatuh dalam pesonamu. Aku tidak marah ketika kau terus menyita waktuku hanya untuk memikirkanmu.
Aku tidak mendendam saat kau tiba-tiba pergi. Tanpa kata-kata, tanpa pertanda. Aku tidak pernah marah, ketika semua orang bilang kaulah penyebab hatiku terluka.

Kata orang, demi menyelamatkanmu dari orang yang salah, Tuhan mematahkan hatimu. Tapi aku bilang, tidak. Kau bukan orang yang salah. Tidak ada yang salah di antara kita. Aku benar, kau pun benar, rindu ini juga benar. Yang sedang aku lalui hanyalah ujian, dan perjuangan. Aku percaya bahwa kau layak kuperjuangkan. Aku percaya, ada akhir yang indah untuk kita.



Aku tidak marah jika aku harus menunggu. Tidak akan marah jika harus terus menunggu. Meski aku tak tahu sampai kapan, tapi aku tidak akan marah.

Untukmu, Perempuan Penggenggam Rindu

February 25, 2016 § Leave a comment

Kubuatkan ini untukmu, hai kamu, perempuan penggenggam rindu. Kamu, yang berkeras menggenggam rindumu tanpa membaginya. Kamu yang memilih diam-diam merindu daripada mengucapnya.

Bodoh. Dasar bodoh. Kalau rindu kenapa tidak kamu bilang? Kalau rindu kenapa kamu terus sembunyikan?
Bukankah lebih indah jika diungkapkan? Bukankah lebih menyenangkan jika dibagikan? Tapi kamu memang bodoh. Terus-menerus menggenggam, tanpa memberi tahu, tapi diam-diam mengharap dia tahu lalu menghampirimu. Benar, bukan?

Kamu bodoh. Memang bodoh. Tapi kamu tau, ada yang lebih bodoh darimu? Itu aku. Aku sama sepertimu. Sama-sama menggenggam rindu. Juga sama-sama membisu. Rinduku ini terlalu. Terlalu besar untuk kusimpan rapat, tapi terlalu malu untuk kuberitakan.

Kita memang bodoh. Kumpulan perempuan bodoh. Yang diam menunggu tanpa mengucap, yang terus menahan tanpa mencoba. Tapi aku, akan lebih bodoh jika mengungkapnya. Rinduku terlalu besar, juga salah. Akan salah jika aku membukanya. Akan salah jika aku membagi padanya. Jadi biar kita simpan kembali rindu kita. Kita genggam kuat rindu kita. Tanpa pernah berpikir akan membaginya.

Dariku, perempuan yang lebih bodoh darimu.

Halo, Februari!

February 9, 2016 § Leave a comment

Halo, Februari!

Jika banyak orang-orang menyukaimu karena beranggapan bahwa kau bulan penuh kasih sayang, maka mungkin aku satu-satunya orang yang membencimu. Bukan, bukan membenci. Hanya saja, aku tidak menyukaimu layaknya orang-orang menyukaimu.

Kau, bulan yang katanya penuh kasih sayang. Tapi di bulanmu lah, hatiku berurai menjadi serpihan. Di bulanmu lah segala harapanku punah. Di bulanmu lah, semua keindahan yang kurasakan lenyap seketika.

Segalanya berlalu di bulanmu. Percik bunga api lenyap di bulanmu. Bunga-bunga yang bermekaran seketika layu di bulanmu, hingga kupu satupun tak mau bertamu.

Tapi kurasa tak adil bagimu jika aku terus mengutukmu karena semua hal itu, yang bahkan sudah berlalu dua tahun lalu. Aku tahu yang harus kulakukan hanyalah membuka buku yang baru. Tapi sebelum itu aku harus menutup buku lama ini, agar semua pahit di bulanmu pun ikut tersapu.

Halo, Februari! Aku siap kembali berteman denganmu. 🙂

Tuhan Memiliki Selera Humor yang Berbeda?

August 2, 2015 § Leave a comment

Aku pernah merasakan ini. Pernah menjalani cerita ini. Cerita yang sama, kejadian yang serupa, hanya tokohnya saja yang berbeda.
Aku melewatkan ratusan hariku untuk menyendiri hanya karena cerita ini. Sampai akhirnya aku lelah dan berharap ada yang hadir menggantikannya.

Tapi, apakah kamu pernah dengar sebuah pepatah, bahwa Tuhan memiliki selera humor yang berbeda? Aku menemukan hal baru untuk menggantikan kisah lamaku, tapi detik itu juga aku menyadari bahwa ceritanya pun sama. Rasanya Tuhan ingin mengajakku bercanda kali ini.

Sakit? Tentu saja. Tapi aku pernah merasakan yang lebih sakit dari ini. Karena itu aku masih bisa bilang aku baik-baik saja. Ingin menangis? Tidak. Mungkin mataku pun sudah bosan mengguyurkan air matanya untuk hal yang sia-sia.

Yang perlu kulakukan saat ini hanya lari, tapi apa aku bisa?

The Power of Thank You

April 25, 2015 § Leave a comment

Tentu sudah banyak yang mendengar bahwa ada tiga kata ajaib di dunia ini. The Three Magical Words, yaitu tolong, maaf, dan terima kasih. Tiga kata sederhana tapi memiliki makna yang sangat berarti bagi orang yang mendengarnya. Pernah merasakannya, bukan? Perbedaan ketika kita mendengar kata-kata itu. Ada kesan menyejukkan dan menyenangkan dalam tiga kata tersebut.

Ambil contoh saja saat orang meminta kita untuk mengambilkan sesuatu. Pasti kita bisa merasakan perbedaan antara kalimat “Ambilkan itu, dong!” dengan “Tolong ambilkan itu, dong!”.

Tapi, dari tiga kata tersebut, yang menyimpan makna paling besar bagi saya adalah terima kasih. Baru-baru ini, saya membaca kembali satu set komik Jepang berjudul Dunia Mimpi, karangan komikus Jepang yang sangat saya sukai, Kyoko Hikawa.

image

Di komik tersebut, tepatnya volume 14, ada satu adegan yang membuat saya semakin mengerti betapa pentingnya kata terima kasih. Dikisahkan, si tokoh utama yang merasa dirinya tidak mempunyai kekuatan dan tidak mampu melakukan apa-apa untuk membantu teman-temannya, padahal teman-temannya sudah bertarung mati-matian untuk melindungi dirinya. Ia merasa tidak berguna, tapi kemudian tokoh wanita yang ia panggil Bibi mengatakan satu hal padanya.

Kamu bisa berterima kasih pada mereka. Hal itu mungkin terdengar sederhana, tapi berarti besar bagi mereka. Terima kasih bisa memberikan energi positif bagi mereka, dan itu memberikan kekuatan pada mereka.
Kemudian ia teringat pada masa kecilnya, ketika ia membantu ibunya. Ia kelelahan, namun kemudian ibunya mengucapkan terima kasih padanya, dan ia merasakan perasaan menyenangkan mendengar itu.

Membaca hal itu membuat saya semakin menyadari pentingnya berterima kasih. Betapa besar efek yang bisa kita rasakan saat kita mendengar kata terima kasih. Maka, jangan lupa berterimakasihlah pada orang-orang di sekitar kita, karena bisa saja hal itu memberikan energi positif bagi mereka. Terima kasih sudah bersedia membaca post ini! 🙂

Menunggu

April 9, 2015 § Leave a comment

Menunggu itu membosankan, kataku. Juga melelahkan. Menjengkelkan, menyebalkan. Tapi untukmu aku mau, lanjutku.
Tidak, kamu bilang. Jangan.
Aku tetap ingin, kataku lagi.
Jangan. Jangan menungguku seperti itu, balasmu.

Aku diam. Kamu diam.

Aku mau, tapi kamu bilang jangan. Tapi bagaimana kalau aku memaksa? Bagaimana kalau aku ingin?
Kamu tetap diam.

Aku tidak pernah keberatan, kataku lagi. Kamu menoleh. Lalu bilang, terserah.

Kamu pergi. Tidak pernah kembali. Sampai aku berpikir untuk berhenti. Karena nyatanya kamu memang tak boleh untuk dinanti.

Baru sejengkal aku melangkah tiba-tiba kamu datang. Bukan untuk ketemu. Cuma sekedar tanya kabar.
Tapi itu saja cukup. Cukup membuatku kembali ke tempatku untuk menunggumu.

Begitu terus. Selalu begitu. Setiap aku mau berhenti, kamu datang. Bukan maksudmu menghentikanku, aku tau. Tapi itu semua cukup buat aku yakin satu hari nanti kamu akan pulang.

Pulang untuk ketemu, bukan sekedar tanya ini-itu. Bukan juga cuma berbagi kabar.
Pulang untuk tinggal, bukan sekedar mampir. Bukan untuk pergi lagi.

Terima kasih, untuk membiarkanku menunggu. Untuk mengijinkanku menunggu. Segeralah pulang, agar aku tak lagi menunggu. Aku sudah cukup merindukanmu.